Showing posts with label puisi dan sastra. Show all posts
Showing posts with label puisi dan sastra. Show all posts
Thursday, January 1, 2009
independent
di dalam langkahku
ku tau aku lemah
ku tau aku tidak kuasa
ku tau aku berbatas
dengan segenap sayap kejujuranku aku katakan aku tak seindah dirimu
aku tidak pernah tau jika pada akhirnya ku menjadi aku
tidak paham akan garis kehidupanku
ku pikir..hidupku untuk orang lain
bukan aku meminta kehidupan dari orang lain
meski dengan semua kelemahan, ketidakkuasaan dan keterbatasan
aku masih mencoba terus melangkah
melewati batas-batas kehidupan
berusaha membuat semua normal tanpa catatan kaki di bawahnya
karena aku terus mencoba meyakinkan diriku
bahwa aku wanita yang mampu_tanpa catatan kaki!
re-write 21 Agustus 2006 di Balikpapan
ku tau aku lemah
ku tau aku tidak kuasa
ku tau aku berbatas
dengan segenap sayap kejujuranku aku katakan aku tak seindah dirimu
aku tidak pernah tau jika pada akhirnya ku menjadi aku
tidak paham akan garis kehidupanku
ku pikir..hidupku untuk orang lain
bukan aku meminta kehidupan dari orang lain
meski dengan semua kelemahan, ketidakkuasaan dan keterbatasan
aku masih mencoba terus melangkah
melewati batas-batas kehidupan
berusaha membuat semua normal tanpa catatan kaki di bawahnya
karena aku terus mencoba meyakinkan diriku
bahwa aku wanita yang mampu_tanpa catatan kaki!
re-write 21 Agustus 2006 di Balikpapan
hidup
jika disana ada sebuah makna yang tersirat
maka butuh seribu penafsiran untuk tau apa mengapa dan bagaimana
makna itu menjadi bagian dari hari dan jiwa
yang selalu menjadi bayang-bayang kehidupan
karena kehidupan itu sendiri perlu kekuatan untuk dapat
memaknai setiap bagian dari hati dan jiwa juga bayang-bayangnya
balikpapan, 6 juli 2005
maka butuh seribu penafsiran untuk tau apa mengapa dan bagaimana
makna itu menjadi bagian dari hari dan jiwa
yang selalu menjadi bayang-bayang kehidupan
karena kehidupan itu sendiri perlu kekuatan untuk dapat
memaknai setiap bagian dari hati dan jiwa juga bayang-bayangnya
balikpapan, 6 juli 2005
Monday, December 29, 2008
SENJA DI PELABUHAN KECIL
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
karya : Chairil Anwar - 1846
hampa
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
Subscribe to:
Posts (Atom)
